Cerita Inspirasi

NAMA    : NAZULA RAHMA SHAFRIANI

NRP         : G84100061

LASKAR : 20

Inspirasi Diri Sendiri

Semua yang terjadi dalam hidupku adalah takdir Tuhan. Awalnya aku mengganggap bahwa Tuhan itu sangat tidak adil padaku. Kegagalan demi kegagalan datang menyelimutiku. Sudah berkali-kali kegagalan aku rasakan. Mulai dari ketika aku ingin masuk bangku sekolah menengah pertama. Aku ingin sekali diterima di salah satu SMP favorit yang ada di kotaku. Aku belajar giat demi mendapatkan impianku itu. Aku ikut bimbingan belajar dimana-mana. Setelah menjalani tes hingga pengumuman, ternyata hasil yang aku dapatkan tidak sesuai target. Aku nyaris diterima, aku ranking 404. Padahal yang diterima 400 siswa sedangkan cadangannya ada 3, ketiga-tiganya masuk semua. Aku terlempar ke sekolah swasta. Orang-orang beranggapan bahwa sekolah swasta buruk, anaknya tidak cerdas. Dengan pemikiran orang-orang yang seperti  itu membuatku untuk bisa membuktikan bahwa siswa sekolah swasta tidak kalah saing di banding sekolah negeri. Memang ada beban di hati tapi aku berusaha agar aku sama seperti anak-anak yang bersekolah di SMP negeri. Aku ingin membuktikan bahwa kesuksesanku hanya tertunda untuk sementara waktu.

Tiga tahun kujalani dengan penuh semangat dan kadang teringat omongan orang. Namun, aku harus tetap bertahan untuk meraih mimpi-mimpiku. Kejadian yang sama menimpaku ketika aku ingin masuk sekolah menengah atas. Aku ingin sekali diterima di SMA favorit di kotaku. Yang membuatku berkeinginan kuat untuk sekolah di SMA itu karena kakak sepupuku. Dia bisa diterima disana, berarti aku juga bisa. Tapi kenyataanya Allah berkehendak lain. Aku tidak diterima. Aku diterima di SMA negeri tapi bukan sesuai keinginanku. Aku semakin yakin bahwa Tuhan sangat tidak adil padaku. Semua kejadian yang menimpaku sangat menyiksa hati. Namun, di SMA itu aku bisa ikut berbagai organisasi dan termasuk salah satu orang yang terkenal. Aku ikut paskibra, kir, serta organisasi lainnya. Aku menjadi panitia dalam acara- acara di sekolah. Kakak sepupuku mengatakan aku beruntung bisa ikut-ikud organisasi itu dan bisa dikenal banyak orang.

Ketika aku duduk di kelas tiga, aku ikut seleksi mahasiswa tanpa tes dari IPB. Awalnya hanya coba-coba. Aku bingung mau memilih jurusan apa kelak. Setelah dirundingkan akhirnya aku memutuskan pilihan pertamaku adalah teknologi pangan dan pilihan keduaku adalah biokimia.

Tibalah saat pengumuman, aku diterima. Entah kenapa perasaanku begitu bahagia. Dari itulah aku baru menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Apa yang kita inginkan belum tentu terbaik menurut Allah SWT. Roda itu akan selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Jadi jangan sekali-kali beranggapan bahwa Tuhan itu tidak adil. Kadang memang kenyataan membuat kita jatuh karena usaha keras yang telah kita lakukan tidak sesuai yang diharapkan. Tapi di balik semua itu Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuk setiap hamba-Nya.

NAMA    : NAZULA RAHMA SHAFRIANI

NRP         : G84100061

LASKAR : 20

Kesaksian Hidup dibalik Meledaknya Pesawat Luar Angkasa Challenger, USA.

Semua dimulai dari impiannya. Frank Slazak namanya. Dia  ingin menjadi astronot. Dia ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi dia tidak memiliki sesuatu yang tepat. Dia tidak memiliki gelar. Dan dia bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadi. Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Dia hanya  warga biasa, dan  seorang guru. Hari itu juga Frank mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari ia berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doanya terkabulkan! Frank lolos penyisihan pertama.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impiannya semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai Frank menunggu dan berdoa lagi. Dia tahu bahwa impiannya semakin dekat. Beberapa waktu kemudian, Frank menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini ia menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
”Tuhan, biarlah diriku yang terpilih” begitu Frank berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Frank kalah. Impian hidunya serasa hancur. Dia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaannya. Ia mempertanyakan semuanya. ”Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?” katanya. “Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?” tambahnya. Kemudian dia berpaling pada ayahnya. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, Frank berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, dia menantang impiannya untuk terakhir kali. “Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?” katanya. Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Frank jadi teringat kata-kata ayahnya,
“Semua terjadi karena suatu alasan.”

“Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan” begitu katanya.